Posted by: mazagung on: December 11, 2008
Bekas Ketua MPR M. Amien Rais ternyata masih punya nyali juga untuk maju sebagai capres 2009. Tapi, buru-buru MAR mengaku cuma siap jadi “pemain cadangan” saja.
Nyali besar tak diimbangi kekuatan modal juga percuma. Kalau hanya maju nyapres dengan modal dengkul sekalipun, bagi Amien Rais kursi Presiden RI hanya mimpi.
“Kans saya amat sangat kecil karena tak termasuk yang gede uangnya, jadi cukup di bangku cadangan,” ujarnya setelah diskusi “Media dan Pemilu” di Wisma Antara, Jakarta, Rabu (10/12).
Ketua Majelis Penasihat DPP PAN itu menuding, Pilpres 2009 masih akan dipenuhi pertarungan kandidat presiden yang hanya bermodal uang. Indikasinya, kata dia, adalah bernafsunya para capres tersebut untuk berlomba-lomba menebar pesona dengan memasang iklan di media cetak dan televisi.
“Kita sebenarnya sedang menghadapi sebuah musibah politik yang serius,” keluh Amien. Kriteria capres ideal, kata dia, sudah bergeser dari calon yang punya visi kebangsaan kuat ke tokoh yang mampu tampil semenarik mungkin dalam iklan.
Media, lanjut Amien, bukan lagi menjadi ajang pertarungan ide, kejujuran, dan track record calon pemimpin. Tapi, semata-mata menjadi alat untuk tebar pesona dan propaganda murahan.
“Memilih ‘lurah Indonesia’ itu seharusnya tak seperti memilih lurah di desa, siapa yang goceknya paling tebal, dialah pemenangnya,” ketusnya.
Pada 2004 Amien yang berpasangan dengan Siswono Yudhohusodo terpental. Dia harus berpuas hanya di urutan keempat di bawah SBY, Mega, dan Wiranto.
“Andai ada yang meminta saya (maju capres) dan itu masuk akal, saya siap turun gunung lagi,” ujar mantan ketua umum PP Muhammadiyah tersebut.
Hingga saat ini, aktivitas Amien memang kembali seperti sebelum masuk dunia politik. Yaitu, menjadi guru besar di UGM Jogjakarta. “Jadi, kalaupun tidak ada yang mencalonkan, saya akan tetap bahagia seperti sekarang ini,” tandasnya.
Di tempat yang sama, pakar komunikasi politik UI Effendy Ghazali mengatakan, iklan politik yang ditampilkan para kandidat capres memang bisa menipu publik. Citra seorang tokoh dikemas sedemikian rupa untuk meraih simpati masyarakat. “Itu fenomena implosion, tayangan mereka (capres, Red) di media nanti akan sulit dibedakan antara politik dan entertainment,” jelasnya.
Akibat iklan itu pula, tokoh politik tak lagi dilihat substansi yang dibicarakannya. Masyarakat lebih akan menilai gaya dan tata perilaku mereka. Effendy pun mencontohkan fenomena SBY pada 2004. “Pak SBY muncul sebagai tokoh idola karena banyak disebut sebagai calon presiden yang ganteng,” ujarnya.
>>> Dikutip dari Jawa Pos (11/12).
anda.bicara