TRI SOEKARNO AGUNG

Ibu Ani dan Kenangan Kamar Mayat RS PGI Cikini

Posted by: mazagung on: June 6, 2008

RUMAH Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, memiliki kenangan tersendiri bagi Ibu Ani Bambang Yudhoyono. Di rumah sakit inilah Ibu Ani pernah melakukan praktik sebagai calon dokter. Saat itu Ibu Ani masih mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia (UKI).

“Tadi pagi ketika membuka album foto, masih tersimpan dengan rapi foto ketika saya masih menjadi cami, calon mahasiswi. Saya menggunakan rompi karung, rambut dikepang tujuh dengan pita warna-warni,” Ibu Ani bercerita, sambil menunjukkan beberapa foto, ketika meresmikan Gedung Unit Stroke RS PGI Cikini, Jumat (6/6) pagi.

“Dari kakak-kakak senior, saya diberi nama panggilan cantik, Padibu. Saya tidak tahu apa arti dari Padibu,” kata Ibu Ani. “Ketika saya tanya, seorang senior saya menjawab kalau Padibu itu adalah nama obat. Namun setelah dijelaskan lebih lanjut, ternyata Padibu itu singkatan bapak di atas ibu. Astaga, saya sampai terkejut setengah mati, tidak menyangka bahwa saya pada saat itu dipermainkan senior saya. Ternyata tidak ada obat bernama Padibu,” kenang Ibu Ani, disambut gelak tawa kurang lebih 150 undangan yang hadir.

Dalam acara yang juga dihadiri sahabat-sahabatnya ketika masih berkuliah di UKI, Ibu Ani menceritakan pengalamanan di kamar mayat RS PGI Cikini. “Di depan kamar mayat itulah, saya dengan teman-teman disuruh minum Brotowali,” Ibu Ani bertutur. “Tapi yang paling tidak pernah saya lupakan sampai kapanpun juga adalah ketika malam-malam saya disuruh ke kamar mayat. Dengan ditemani lampu lilin saja saya masuk ke kamar mayat itu. Tiba-tiba ada tangan dingin yang menyentuh kaki saya. Saya langsung berteriak karena dinginnya bukan main. Saya tahu ini kamar mayat, tapi ada yang memegang kaki saya. Ternyata lagi-lagi senior saya ada di situ,” ujarnya.

“Di suatu ruangan, saya disuruh membedakan mana mayat yang sudah lama dan mana mayat yang masih baru. Saya pikir inilah memang gojlokan untuk seseorang yang ingin menjadi dokter. Dengan serius, pelan-pelan saya mengamati mana ya kira-kira mayat yang baru dan yang lama. Begitu saya melihat mayat yang kanan, penuh dengan luka dan darah, saya mengatakan mungkin inilah mayat yang masih baru. Tiba-tiba mayat itu bangun. Saya kembali menjerit. Bayangkan saja, ketika itu saya sendirian. Ternyata sosok mayat baru itu adalah senior saya juga,” jelas Ibu Ani. “Tentu saja pada jaman itu dengan senior saya takutnya bukan main. Tapi saya tidak tahu apakan akhirnya senior saya itu lulus juga jadi dokter atau tidak lulus seperti saya,” kata Ibu Ani yang tidak sanggup menyembunyikan rasa gelinya.

“Saya sempat mengikuti kuliah dan praktikum di rumah sakit ini yang pada waktu itu masih menumpang, sampai menempati tempat yang baru. Tetapi kemudian saya tidak tamat kuliah karena saya harus mengikuti kepindahan orangtua saya yang bertugas ke Korea Selatan. Pada waktu itu orangtua saya mengatakan bahwa saya boleh melanjutkan kuliah di Korea Selatan, ternyata semua kuliahnya menggunakan bahasa Korea. Waduh saya tidak sanggup karena harus mempelajari huruf kanji selama dua tahun,” ujar Ibu Ani.

Namun meskipun tidak menjadi dokter, Ibu Ani tidak pernah berputus asa dan tetap mempunyai perhatian kepada kesehatan masyarakat Indonesia. Ibu Ani melanjutkan kuliahnya di Universitas Merdeka, Malang, dan lulus dengan gelar Sarjana Ilmu Politik pada tahun 1998.

[Sumber: www.presiden-sby.info]

Leave a Reply

pilah.pilah

pilihan.lain

lihat.tanggal

June 2008
M T W T F S S
« May   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

tamu.melihat

  • 38,254 hits since 18 Mei 2008