TRI SOEKARNO AGUNG

Perginya Tokoh Langka

Posted by: mazagung on: May 21, 2008

Oleh: Rosihan Anwar, Wartawan Senior

SEJAK beberapa minggu ini saya dengar kabar bahwa mantan gubernur DKI Jakarta dan tokoh nasional H Ali Sadikin atau Bang Ali dirawat di rumah sakit di Singapura. Sebagai orang yang telah mengalami cangkok ginjal di Beijing, sudah berusia 80 tahun, apa saja dapat terjadi. Maka, saya segera maklum ketika menerima SMS bahwa Ali Sadikin meninggal dunia pada 20 Mei pukul 17.30 WIB. Jenazahnya malam itu juga dibawa ke Jakarta, ke rumah duka di Jalan Borobudur 2.

Ketika Ali Sadikin mulai menjabat gubernur DKI Jakarta pada 1960-an, saya usulkan dalam Harian Kami, agar dia diberi nama sapaan populer Bang Ali. Beberapa pemuka Jakarta menginginkan penamaan Bang Dikin. Tapi, dia menolak. Maka, lekatlah sebutan Bang Ali pada dirinya.

Kemampuan Bang Ali untuk berbuat adalah luar biasa. Dia tidak berteori bertele-tele. Dia bukan tipe intelektual yang cenderung abstrak. Dia orang yang bertindak. Tidak njelimet, tidak canggih. Pola pikirnya bersahaja, lurus lempang, tidak macam-macam. Tidak takut apa kata orang bila dia sudah yakin bahwa apa yang dibuatnya adalah benar.

Tidak ada dana untuk menutupi jalan yang rusak berlubang, memperbaiki penerangan listrik yang remang-remang, mengadakan perbaikan kampung yang kumuh, dan tidak punya prasarana mendasar untuk menopang kualitas kehidupan rakyat? Tiada masalah. Dia tak segan-segan mengizinkan warga Tionghoa bermain judi secara terbuka, dan dari lotere dan siah-hwee mengambil ke keuangan guna membiayai pembangunan gedung sekolah dasar, gedung puskesmas, dan lain-lain.

Pendek kata, Bang Ali pada masa dini awal jabatannya mengingatkan orang kepada wali kota di Amerika di zaman Presiden Roosevelt. (Fiorello H. La Guardia, wali kota New York 1934-1945, Red). Dia diberi julukan “People’s Mayor” atau wali kota rakyat. Seperti tokoh itu, Bang Ali mengelola Jakarta dengan sukses. Karena dia seorang pendengar yang baik, mencermati apa nasihat orang. Dia menerapkan management by teamwork. Harus bekerja bersama-sama, dengan tidak melupakan siapa komandan. Pada akhirnya yang bertanggung jawab adalah Bang Ali.

Apakah boleh dibilang Bang Ali sebagai The Founding Father of Jakarta, Bapak Pendiri Jakarta? Jawaban saya, bukan begitu. Bang Ali adalah orang yang memberikan harapan kepada rakyat Jakarta. Bang Ali menjanjikan perubahan. Kalau sekarang, seperti Senator Barack Obama, dalam kampanye untuk capres Partai Demokrat sangat menekankan perlunya mendatangkan harapan dan perubahan, bahkan bicara tentang keberanian berharap atau audacity of hope.

Ali Sadikin 50 tahun yang silam telah mendengungkan gema harapan. Dan, dia berhasil. Lihatlah perubahan yang terjadi di Jakarta dalam tempo singkat. Saksikanlah Jakarta tidak bisa terus-menerus disebut The Big Village atau Dusun Besar, mengutip judul film Usmar Ismail.

Ada satu hal yang dilupakan orang sekarang ini. Yaitu, ketika Ali Sadikin diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Menko Perhubungan Laut. Dalam masa jabatan yang singkat Bang Ali memberikan dukungan sepenuhnya pada terwujudnya undang-undang pelayaran yang bertujuan memajukan usaha pribumi di bidang perkapalan dan pelayaran.

Dia mendobrak gangguan dari pihak birokrasi terhadap pengusaha swasta. Dia selesaikan pungutan liar yang banyak dikerjakan di pelabuhan. Dia menggalakkan agar pengusaha perkapalan swasta kalangan pribumi bisa bergabung dalam satu tangan dan kepemimpinan berbagai bidang yang saling terkait seperti boleh memiliki kapal sendiri, membangun sendiri usaha stevedoring (bongkar muat, Red), mengatur sendiri rute pelayaran dengan peringatan jangan sampai bertabrakan dan bersaing satu sama lain. Berkat visi Ali Sadikin itulah bisa berkembang usaha pelayaran/perkapalan Samudera Indonesia yang dipimpin “Raja Kapal” almarhum Soedarpo Sastrosatomo.

Bang Ali juga orang berprinsip. Pada 1980 Presiden Soeharto di Pekanbaru di depan para peserta Latgab (Latihan Gabungan) ABRI memperdengarkan nada-nada otoriter dan mengancam kehidupan berdemokrasi. (Menyatakan akan menculik anggota MPR yang ingin mengganti UUD 1945 atau Pancasila, agar sidang MPR tidak kuorum, Red). Maka, Bang Ali ikut menandatangani Petisi 50 bersama Jenderal A.H. Nasution, Mohammad Natsir, dan tokoh-tokoh lain sebagai suatu gerakan mau mengoreksi sikap Soeharto.

Akibatnya, Bang Ali dikucilkan, dianggap “mati secara hukum,” disulitkan kegiatan perusahaannya, digencet dalam pergaulan sosial, seperti tidak boleh tampil dalam sebuah pesta bersama Presiden Soeharto. Segala ditanggungkannya demi menegakkan nilai-nilai etika dan moralitas yang dianut.

Bang Ali orang yang suka bersilaturahmi. Dia sering berkunjung ke rumah saya untuk bercakap-cakap dan tidak bisa dielakkan bila kami menyentuh soal-soal politik aktual. Bang Ali orang yang punya perhatian intens terhadap keselamatan dan kesejahteraan bangsa dan negara. Orang yang demikian adalah makhluk langka. Orang yang demikian diberi karunia oleh Tuhan untuk menjalani kehidupan sepenuh-penuhnya dan bersyukur kepada Allah.

Orang yang demikian kita hormati dan kita doakan agar Tuhan menyebut kedatangannya, memaafkan kesalahannya dan agar arwahnya diterima oleh Tuhan di sisi-Nya. Amin ya rabbal alamin.(*)

* Dimuat Jawa Pos, Rabu – 21 Mei 2008

Leave a Reply

pilah.pilah

pilihan.lain

lihat.tanggal

May 2008
M T W T F S S
« Mar   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

tamu.melihat

  • 38,254 hits since 18 Mei 2008